Peran Telur Untuk Mencegah Dan Menangani Stunting Pada Anak, Oleh Dokter Rayza Swan Awanti

Sultralink.Com, Kesehatan – Stunting atau sering disebut kerdil atau pendek adalah kondisi gagal tumbuh pada anak dan balita berusia di bawah lima tahun akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yaitu janin hingga usia 23 bulan. Anak tergolong stunting apabila panjang atau tinggi badannya berada di bawah minus dua standar deviasi panjang atau tinggi anak seumurnya. Perhatian khusus diperlukan pada kasus stunting pada anak di bawah lima tahun karena berpotensi menghambat perkembangan fisik, mental dan kognitif anak.

Stunting dapat disebabkan karena terjadinya defisit protein, dimana protein sebagai sumber asam amino yang dibutuhkan tubuh untuk pertumbuhan tulang. Penanganan stunting diprioritaskan terhadap Ibu hamil dan anak berusia 0 hingga 2 tahun dengan melakukan intervensi gizi yang spesifik dan sensitif. Intervensi gizi spesifik dapat diartikan sebagai tindakan yang dilakukan secara khusus dengan sasaran anak 1000 hari pertama kehidupan. Salah satu intervensi spesifik yang dilakukan di Indonesia adalah dengan pemberian telur minimal 1 butir pada bayi usia lebih dari 6 bulan kepada balita.

Telur merupakan salah satu makanan bergizi yang relatif murah dibandingkan sumber protein hewani lain, mudah ditemukan di seluruh wilayah Indonesia, mudah cara pengolahannya, dan aman serta mudah dikonsumsi bagi balita dan anak-anak. Satu butir telur kaya akan berbagai nutrisi karena mengandung protein, lemak, serta berbagai mineral dan vitamin yang baik untuk pertumbuhan dan perkembangan anak. Telur sudah terbukti dapat menurunkan stunting, pada penelitian menunjukkan bahwa pemberian 1 butir telur ayam ras perhari pada bayi usia 6 bulan ke atas selama minimal 6 bulan dapat menurunkan angka stunting hingga 47%.

Program pemberian telur sendiri sudah dicanangkan oleh pemerintah baik pusat, provinsi, daerah, hingga ke tingkat kepala desa yaitu dengan pemberian telur pada “isi piringku” dan kampanye ”1 telur perhari”. Target nasional penurunan stunting pada tahun 2024 adalah 14%, walaupun sudah menunjukkan tren penurunan dalam 2 tahun terakhir angka nasional stunting masih berada di atas target dengan angka 21,6% pada tahun 2022. Di kabupaten konawe utara sendiri, angka stunting pada tahun 2022 masih berada di angka 24,4% dibawah capaian rata-rata tingkat provinsi Sulawesi tenggara yang masih 30,2%. Namun, pihak pemerintah Kabupaten Konawe Utara juga tetap mengupayakan untuk dapat mencapai target nasional pada tahun 2024 dengan membentuk tim satuan tugas Unit Reaksi Cepat Penanganan Kemiskinan Ekstrem, Pengendalian Inflasi,dan Pencegahan Stunting Secara Selaras (URC-KISS) sejak awal tahun 2023 yang salah satu programnya adalah dengan membagikan bahan-bahan makanan gratis kepada kelompok masyarakat dengan resiko dan yang telah mengalami stunting dimana salah satu bahan makanan tersebut juga adalah telur. Salah satu program pemerintah Kabupaten Konawe Utara juga dengan membentuk pasar murah secara berkala yang dapat diakses oleh setiap warga agar warga dapat mengakses bahan-bahan makanan salah satunya telur dengan lebih murah dan mudah.

Memang masih terdapat beberapa kendala dimasyarakat dalam memberikan telur kepada anaknya, diantaranya merasa kasihan jika hanya memberikan telur setiap hari, takut anaknya mengalami alergi atau bentol-bentol jika terlalu sering diberikan telur, serta cara pengolahan telur yang belum optimal. Telur memang dapat menyebabkan alergi pada 36-50% anak karena mengandung protein dan alergi ini akan tampak pada awal-awal pemberian telur seperti kemerahan pada wajah dan badan, dimuntahkan tiap kali diberikan, bahkan hingga menimbulkan sesak yang cukup berbahaya. Pada kondisi ini pemberian telur tidak diperbolehkan dan dapat diganti dengan pemberian sumber protein hewani lainnya seperti ikan dan daging sapi atau ayam yang tentunya jika tidak menimbulkan reaksi alergi juga.

Mayoritsas Masyarakat juga masih belum mengetahui cara pengelohan telur yang baik. Pengolahan telur yang baik pada beberapa masyarakat dimulai sejak proses pemilihan, pembersihan, penyimpanan, serta memasak. Pada proses pemilihan, pilihlah telur yang segar, masih utuh, tidak retak atau pecah, dan tidak terlalu banyak kotoran pada cangkangnya. Setelah itu simpanlah telur di dalam kulkas agar telur lebih awet dan mencegah dari kontaminasi kuman. Jangan menyimpan telur pada rak telur yang berada disisi pintu kulkas karena hal ini membuat suhu telur tidak stabil dan menjadi kurang awet dan kontaminasi kuman masih dapat terjadi. Jangan mecuci telur yang akan disimpan, untuk membersihkan kotoran-kotoran pada telur dapat dilakukan dengan cukup dilap menggunakan kain atau tissue kering. Telur dapat diolah dan dimasak dengan berbagai macam cara, berikut berbagai macam rekomendasi olahan yang aman untuk anak:

· Jangan memberikan telur mentah atau setengah matang kepada anak, karena telur masih memiliki kandungan kuman yang dapat menyebabkan anak sakit.

· Jika telur direbus maka sebaiknya rebuslah telur pada air mendidih selama 6-10 menit, jangan terlalu cepat atau terlalu lama karena jika terlalu lama maka kuman pada telur belum sepenuhnya mati. Sedangkan jika terlalu lama maka kandungan nutrisi pada telur akan berkurang. Kuning telur yang berubah warna menjadi abu-abu adalah salah satu tanda bahwa telur terlalu matang.

· Jika telur digoreng maka lakukan dengan api yang kecil agar tidak merusak nutrisi dan disarankan menggunakan minyak baru dan tahan panas.

· Kreasikan telur menjadi berbagai menu masakan agar tidak bosan. ****

Penulis: Dokter Rayza Swan Awanti. Dokter Umum Puskesmas Asera